Sejarah Mbaru Niang Wae Rebo, Filosofi Rumah Kerucut dan Kehidupan Masyarakatnya
Ragamjatim.id - Di tengah pegunungan Flores, Nusa Tenggara Timur, terdapat sebuah kampung adat yang memiliki bentuk permukiman sangat khas. Kampung tersebut adalah Wae Rebo, sebuah perkampungan masyarakat Manggarai yang berada di kawasan pegunungan dan dikenal luas karena rumah adatnya yang berbentuk kerucut.
Rumah itu disebut Mbaru Niang.
Bagi masyarakat Wae Rebo, Mbaru Niang bukan sekadar bangunan untuk berlindung dari hujan dan dinginnya pegunungan. Rumah ini menjadi bagian penting dari kehidupan sosial, hubungan kekerabatan, tradisi, kepercayaan, hingga cara masyarakat memahami hubungan antara manusia, alam dan leluhur.
Keunikan Mbaru Niang terletak pada bentuknya yang menjulang dengan atap lebar yang turun hampir menyentuh tanah. Bangunannya memiliki lima tingkat dengan fungsi berbeda. Di dalamnya, satu bangunan dapat menjadi ruang kehidupan bagi beberapa keluarga dalam satu garis kekerabatan.
Di kawasan Wae Rebo, rumah-rumah tersebut tidak berdiri secara sembarangan. Tujuh Mbaru Niang tersusun dalam pola melingkar mengelilingi compang, sebuah struktur batu yang menjadi pusat kegiatan adat masyarakat. Pola tersebut memperlihatkan bahwa arsitektur Wae Rebo sejak awal tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial masyarakatnya.
Sejarah Mbaru Niang dan Asal Usul Wae Rebo
Sejarah Mbaru Niang tidak dapat dipisahkan dari sejarah Wae Rebo itu sendiri.
Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, masyarakat Wae Rebo merupakan keturunan Empo Maro, leluhur yang dipercaya sebagai pendiri kampung tersebut. Sumber resmi pariwisata Indonesia menyebut Empo Maro sebagai leluhur utama masyarakat Wae Rebo, dengan garis keturunan yang telah mencapai generasi ke-18.
Kisah mengenai perjalanan Empo Maro juga berkembang dalam tradisi lisan masyarakat. Dalam salah satu versi cerita, Empo Maro menjalani perjalanan panjang sebelum akhirnya menetap di wilayah pegunungan yang kemudian menjadi Wae Rebo. Ada pula kisah mengenai pesan melalui mimpi yang mendorongnya memilih kawasan tersebut sebagai tempat tinggal tetap. Karena berasal dari tradisi lisan, kisah tersebut sebaiknya dipahami sebagai bagian dari ingatan budaya masyarakat, bukan semata-mata catatan sejarah tertulis.
Pada masa lalu, rumah berbentuk kerucut seperti Mbaru Niang diperkirakan pernah menjadi bagian dari tradisi arsitektur masyarakat Manggarai di kawasan Flores. Namun, seiring perubahan zaman, bentuk rumah tersebut semakin jarang dipertahankan.
Wae Rebo menjadi salah satu tempat yang tetap mempertahankan tradisi tersebut.
Karena itulah Mbaru Niang kemudian tidak hanya menjadi rumah adat, tetapi juga menjadi simbol keberlanjutan pengetahuan tradisional masyarakat Manggarai.
Pada 2012, upaya masyarakat dan pihak pendukung dalam membangun kembali serta melestarikan tujuh bangunan tradisional Mbaru Niang mendapatkan Award of Excellence dalam UNESCO Asia-Pacific Heritage Awards for Cultural Heritage Conservation. Penghargaan tersebut diberikan karena proyek pelestarian itu dinilai berhasil menggabungkan pelestarian bangunan dengan nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Dengan demikian, Mbaru Niang bukanlah sekadar bangunan tua yang dipertahankan untuk kepentingan wisata. Di dalamnya terdapat pengetahuan mengenai konstruksi, pemanfaatan bahan alam, hubungan kekerabatan, tata ruang, serta kehidupan adat yang terus diwariskan.
Mengapa Mbaru Niang Berbentuk Kerucut?
Bentuk kerucut menjadi ciri paling mudah dikenali dari Mbaru Niang.
Bangunan ini memiliki bagian dasar berbentuk lingkaran dengan struktur yang menjulang ke atas. Atapnya kemudian melebar ke bawah hingga hampir menyentuh tanah. Material tradisional yang digunakan antara lain kayu, bambu dan bahan penutup dari daun lontar atau serat alami. Konstruksinya dibuat dengan teknik tradisional dan tidak bergantung pada penggunaan paku modern.
Bentuk tersebut bukan hanya persoalan estetika.
Secara praktis, atap yang lebar membantu melindungi bagian bangunan dari hujan dan kondisi udara pegunungan. Bentuk rumah yang tinggi juga memungkinkan ruang di dalamnya disusun secara vertikal. Dengan demikian, masyarakat dapat memiliki beberapa fungsi ruang dalam satu bangunan tanpa harus memperluas bangunan secara horizontal.
Namun, bagi masyarakat Wae Rebo, rumah juga memiliki dimensi simbolis.
Rumah adat dipandang sebagai ruang yang melindungi dan mengayomi penghuninya. Balai Pelestarian Cagar Budaya menyebut Mbaru Niang sebagai simbolisasi seorang ibu yang memberikan perlindungan kepada keluarga. Sejumlah unsur konstruksi bahkan dimaknai melalui hubungan antara keluarga, perkawinan, kehamilan dan kelahiran.
Karena itu, makna Mbaru Niang tidak cukup diterjemahkan hanya sebagai "rumah berbentuk kerucut".
Ia merupakan gambaran hubungan antara manusia dengan keluarga, leluhur dan lingkungan tempat mereka hidup.
Bentuk lingkaran pada bagian dasar dan pola permukiman yang mengelilingi compang juga memperlihatkan pentingnya keseimbangan dan kebersamaan. Dalam pandangan budaya Manggarai, pola melingkar memiliki hubungan dengan gagasan mengenai keseimbangan dan kesatuan kehidupan masyarakat.
Dengan kata lain, kerucut adalah bentuk arsitekturnya, sedangkan kehidupan komunal menjadi salah satu jiwa yang menghidupkan bangunan tersebut.
Lima Tingkat Mbaru Niang dan Pembagian Ruangnya
Salah satu keunikan paling menarik dari Mbaru Niang adalah pembagian ruang secara vertikal.
Rumah ini memiliki lima tingkat. Masing-masing mempunyai nama dan fungsi berbeda, mulai dari ruang kehidupan keluarga hingga ruang yang dianggap sakral.
1. Lutur atau Tenda
Bagian pertama merupakan ruang utama tempat keluarga menjalani kehidupan sehari-hari.
Tingkat ini disebut lutur atau tenda.
Di sinilah aktivitas keluarga berlangsung, mulai dari berkumpul, beristirahat, menerima tamu hingga berbagai kegiatan rumah tangga. Ruang ini menjadi bagian paling aktif dalam kehidupan penghuni Mbaru Niang.
Dalam sejumlah kajian, bagian bawah ini juga dibedakan menjadi area yang lebih bersifat publik dan area privat keluarga. Pembagian tersebut menunjukkan bahwa walaupun berada dalam satu rumah besar, masyarakat tetap mengenal batas antara ruang bersama dan ruang keluarga.
2. Lobo
Naik ke tingkat berikutnya terdapat lobo.
Ruang ini berfungsi sebagai tempat menyimpan berbagai bahan makanan dan barang kebutuhan sehari-hari.
Penempatan ruang penyimpanan di atas ruang tinggal memperlihatkan cara masyarakat memanfaatkan struktur vertikal bangunan. Rumah tidak hanya dirancang untuk tempat tidur, tetapi sekaligus menjadi tempat menyimpan kebutuhan hidup keluarga.
3. Lentar
Tingkat ketiga disebut lentar.
Fungsinya berkaitan dengan penyimpanan benih tanaman yang akan digunakan untuk kegiatan bercocok tanam pada musim berikutnya.
Benih memiliki arti penting bagi masyarakat yang kehidupan ekonominya berkaitan erat dengan pertanian. Karena itu, keberadaan ruang khusus untuk menyimpan benih memperlihatkan bahwa Mbaru Niang juga menjadi bagian dari sistem ketahanan pangan masyarakat.
Lentar pada akhirnya bukan sekadar gudang benih. Ruang tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat tradisional menyimpan pengetahuan mengenai siklus pertanian di dalam arsitektur rumah.
4. Lempa Rae
Tingkat keempat disebut lempa rae.
Ruang ini digunakan untuk menyimpan cadangan makanan.
Keberadaan ruang tersebut memiliki fungsi yang sangat penting. Kehidupan masyarakat pegunungan sangat bergantung pada hasil pertanian dan kondisi alam. Ketika hasil panen tidak mencukupi, cadangan makanan menjadi penyangga kehidupan keluarga.
Mbaru Niang dengan demikian memiliki sistem penyimpanan yang bertingkat, dari kebutuhan sehari-hari hingga cadangan untuk menghadapi masa sulit.
5. Hekang Kode
Bagian paling atas disebut hekang kode.
Ruang ini memiliki kedudukan paling sakral dibandingkan tingkat lainnya. Hekang kode digunakan untuk menyimpan sesajian atau persembahan bagi leluhur.
Posisinya yang berada paling tinggi juga memperlihatkan adanya pembagian ruang berdasarkan nilai dan kesakralan.
Jika tingkat paling bawah menjadi ruang kehidupan sehari-hari manusia, bagian paling atas justru menjadi ruang yang berkaitan dengan hubungan spiritual dan leluhur.
Susunan tersebut membuat Mbaru Niang seolah memiliki perjalanan vertikal: dari ruang manusia, kebutuhan hidup, persediaan pangan, hingga ruang yang berkaitan dengan leluhur.
Kehidupan Masyarakat Wae Rebo di Dalam Mbaru Niang
Mbaru Niang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Wae Rebo.
Satu rumah dapat dihuni oleh beberapa keluarga yang masih memiliki hubungan kekerabatan. Dalam catatan Balai Pelestarian Cagar Budaya, Mbaru Niang utama dihuni oleh delapan kepala keluarga sebagai perwakilan dari garis keturunan tertentu.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa konsep rumah di Wae Rebo berbeda dari rumah modern yang umumnya ditempati satu keluarga inti.
Mbaru Niang lebih menyerupai ruang kehidupan keluarga besar.
Hubungan antaranggota keluarga tidak berhenti pada hubungan biologis, tetapi juga diperkuat melalui aktivitas bersama, aturan adat dan tanggung jawab terhadap kampung.
Kehidupan masyarakat Wae Rebo sendiri sangat berkaitan dengan lingkungan pegunungan. Kawasan kampung dikelilingi hutan dan masyarakat memiliki aturan mengenai kawasan hutan yang tidak boleh dieksploitasi secara sembarangan. Balai Pelestarian Cagar Budaya mencatat adanya hutan larangan yang turut menjaga kelestarian lingkungan sekitar Wae Rebo.
Masyarakat juga mengembangkan berbagai kegiatan pertanian. Jagung dan singkong menjadi bagian dari pangan masyarakat, sementara tanaman seperti kopi, vanila dan kayu manis memiliki nilai ekonomi.
Dalam perkembangan berikutnya, pariwisata turut menjadi bagian dari kehidupan ekonomi Wae Rebo.
Kedatangan wisatawan memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat, termasuk melalui penginapan, penyediaan makanan, kerajinan dan aktivitas wisata berbasis masyarakat.
Namun, daya tarik utama Wae Rebo tetap berada pada kehidupan kampung adat itu sendiri.
Tujuh Mbaru Niang dan Makna Kebersamaan
Wae Rebo dikenal dengan tujuh rumah utama yang tersusun dalam pola melingkar.
Tujuh bangunan tersebut membentuk ruang kampung bersama dengan compang sebagai salah satu titik penting dalam tata ruang adat.
Compang merupakan struktur batu yang berada di bagian tengah kampung dan berkaitan dengan aktivitas adat serta hubungan masyarakat dengan alam dan leluhur.
Salah satu Mbaru Niang memiliki fungsi penting sebagai rumah adat dan tempat penyimpanan benda pusaka, termasuk alat musik tradisional seperti gendang dan gong yang digunakan dalam kegiatan adat. Rumah tersebut juga dikenal sebagai Mbaru Gendang atau Niang Gendang.
Pola tujuh rumah tersebut memperlihatkan bahwa kampung tidak dibangun berdasarkan kepentingan individu.
Rumah menjadi bagian dari struktur sosial.
Halaman tengah menjadi ruang bersama. Rumah-rumah mengelilinginya. Aktivitas adat kemudian mengikat keluarga-keluarga yang tinggal di dalamnya.
Arsitektur akhirnya bekerja seperti sebuah bahasa tanpa kata: posisi rumah, bentuk lingkaran dan ruang bersama menunjukkan bagaimana masyarakat memahami kehidupan sebagai sesuatu yang harus dijalani bersama.
Mbaru Niang, Rumah yang Menyatukan Arsitektur dan Tradisi
Keistimewaan Mbaru Niang bukan hanya terletak pada bentuknya yang berbeda dari rumah adat lainnya di Indonesia.
Yang membuatnya penting adalah hubungan erat antara bangunan dan kehidupan masyarakat.
Material bangunan berasal dari lingkungan sekitar. Teknik pembangunannya diwariskan. Ruang-ruangnya mengikuti kebutuhan kehidupan keluarga. Bentuknya beradaptasi dengan kondisi alam pegunungan. Sementara itu, tata ruang kampung memperlihatkan hubungan sosial dan adat masyarakat.
Semua unsur tersebut bertemu dalam satu bangunan.
Itulah sebabnya pelestarian Mbaru Niang tidak cukup dilakukan dengan menjaga atap, tiang dan dindingnya saja. Pengetahuan mengenai cara membangun rumah, pembagian ruang, hubungan kekerabatan, ritual adat serta cara masyarakat menjaga alam juga merupakan bagian dari warisan yang harus dipertahankan.
Penghargaan UNESCO pada 2012 menjadi salah satu pengakuan internasional terhadap upaya tersebut. Proyek pelestarian Mbaru Niang di Wae Rebo dinilai berhasil menghidupkan kembali bentuk arsitektur tradisional sekaligus menjaga nilai warisan budaya yang melekat di dalamnya.
Mbaru Niang sebagai Warisan Budaya Indonesia
Mbaru Niang menunjukkan bahwa rumah adat pada dasarnya bukan hanya persoalan bentuk bangunan.
Di balik atap kerucutnya terdapat sejarah masyarakat.
Di balik lima tingkat ruangnya terdapat sistem kehidupan.
Di balik lingkaran kampungnya terdapat gagasan tentang kebersamaan.
Dan di balik ruang paling atas yang digunakan untuk persembahan terdapat hubungan masyarakat dengan leluhur yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Wae Rebo kemudian menjadi contoh bagaimana sebuah masyarakat dapat mempertahankan identitas budaya tanpa sepenuhnya terputus dari perkembangan zaman.
Mbaru Niang tetap berdiri di tengah perubahan.
Rumah-rumah itu menjadi pengingat bahwa arsitektur tradisional bukan sekadar peninggalan masa lalu. Ia dapat menjadi pengetahuan yang masih hidup, selama masyarakat yang mewarisinya tetap memiliki ruang untuk menjaga, menggunakan dan meneruskannya.
Karena itu, ketika melihat tujuh Mbaru Niang berdiri di tengah pegunungan Wae Rebo, yang terlihat sebenarnya bukan hanya tujuh rumah berbentuk kerucut.
Di sana terdapat sejarah sebuah komunitas, cara masyarakat mengatur kehidupan, pengetahuan membaca alam, penghormatan kepada leluhur, serta gagasan sederhana bahwa rumah bukan hanya tempat untuk tinggal, melainkan tempat untuk menjaga kehidupan bersama. (red)